Rabu, 13 Juni 2012

Perkembangan Seni dan Budaya di Indonesia


  1. Perkembangan Seni Budaya Islam Indonesia
Kajian Islam Indonesia sebenarnya sangat minim bila dibandingkan dengan kesenian Islam di Negara lain, sebut saja Kerajaan Mughal di India yang sampai sekarang masih memiliki symbol-simbol kebebasan arsitektur Islam seperti Taj Mahal. Umat Islam Indonesia dalam hal seni Islam memang hanya jadi pengikut, tidak pernah jadi pemimpin. Keseniannya sangat sederhana dan miskin. Kekuatan himmah seperti yang mendorong Muslim ke Negara lain untuk menciptakan pekerjaan besar, tidak muncul di Indonesia. Kalau pun muncul, biasanya berasal dari pengaruh luar atau peniruan tidak lengkap. Walaupun demikian, Islam datang ke Nusantara membawa tamaddun (kemajuan) dan kecerdasan.[1]

Ada beberapa sebab mengapa hal tersebut terjadi:
  1. Islam yang datang ke Indonesia secara besar-besaran, kira-kira abad ke-13 M, adalh akibat arus balik dampak kehancuran Baghdad. Dengan demikian, umat Islam yang datang pada hakikatnya adalah para pedagang atau elit bangsawan atau ulama-ulama penyebaran agama Islam yang ingin mencari keselamatan dan kehancuran wilayah Timur Tengah karena adanya perang Mongol pemimpin Hulagu.
  2. Di Indonesia, terutama Jawa, ketika Islam datang sudah memiliki peradaban asli yang dipengaruhi Hindu-Bhuddha yang sudah mengakar kuat terutama di pusat pemerintahan, maka seni Islam harus menyesuaikan diri.
  3. Umat Islam yang datang ke Indonesia mayoritas adalah pedagang (orang sipil, bukan pejabat pemerintah) yang tentu orientasinya adalah datang sementara dan untuk mencari keuntungan untuk dibawa ke negerinya.
  4. Kebanyakan keturunan pedagang atau sufi pengembara yang kemudian menjadi raja Islam di Nusantara dan mulai membangun kebudayaan Islam, datang bangsa Barat yang sejak awal kedatangannya sudah bersikap memusuhi uamat Islam (sisa-sisa dendam Perang Salib), sehingga raja-raja Islam pribumi belum sempat membangun.
  5. Islam yang datang ke Indonesia coraknya adalah Islam tasawuf yang lebih mementingkan olah rohani daripada masalah duniawi.
  6. Nusantara adalah negeri yang merupakan jalur perdagangan internasional, sehingga penduduknya lebih mementingakan masalah perdagangan daripada kesenian.
  7. Islam datang ke-Indonesia dengan jalan damai, maka terjadilah asimilasi, yaitu asal tidak melanggar aturan-aturan agama.
Kesenian-kesenian Islam yang ada di Indonesia adalah sebagai berikut:
  1. Batu Nisan
Kebudayaan Islam dalam bidang seni, mula-mula masuk ke Indonesia dalam bentuk batu nisan. Di Pasai masih dijumpai batu nisan makam Sultan Malik al-Saleh yang wafat tahun 1292.[2]  Batunya terdiri dari pualam putih diukir dengan tulisan arab yang sangat indah berisikan ayat Alquran dan keterangan tentang orang yang dimakamkan serta hari dan tahun wafatnya.
Bentuk makam dari abad permulaan masuknya agama Islam menjadi contoh model bagi makam Islam kemudian. Hal ini disebabkan sebelum Islam tidak ada makam. Orang Hindu dan Buddha jenazahnya dibakar dan abunya dibuang ke laut, kalau dia seorang kaya abunya disimpan di dalam guci atau kalau dia raja disimpan di dalam candi.[3]
Menurut penelitian sejarah, selama kekuasaan zaman Majapahit, Islam sebagai agama sudah dikenal dan berkembang berdampingan dengan agama Hindu dan Buddha. Beberapa peninggalan berupa makam seperti yang terdapat di Samudra Pase dan Jawa Timur menjelaskan kenyataan tersebut foto dibawah,
Perubahan yang terjadi dalam kehidupan budaya di daerah kekuasaan pantai tersebut tidak berjalan secara tiba-tiba. Perubahan itu tidak sampai mematikan tradisi kebudayaan lama, baik yang berasal dari kebudayaan pra-Hindu maupun kebudayaan Indonesia-Hindu.[4]
Nisan itu umumnya didatangkan dari Gujarat sebagai batang pesanan. Bentuknya lunas (bentuk badan kapal terbalik) yang mengesankan penagruh Persia. Bentuk-bentuk nisan kemudian hari tidak selalu demikian. Pengaruh kebudayaan setempat sering memengaruhi, sehingga ada bentuk teratai,[5] keris,[6] atau bentuk gunungan seperti gunungan pewayangan.[7] Namun, kebudayaan nisan ini tidak berkembang lebih lanjut. Yang termasyur adalah makam Malik al-Saleh di Perlak dan makam Maulana Malik Ibrahim, wali pertama di Gresik.[8]
  1. Arsitektur (Seni Bangun)
  • Pengantar
Pada zaman Hindu arsitektur adalah karya seni rupa yang melambangkan kebesaran kerajaan. Sekalipun besar karya seni rupa mengandung nilai fungsi sebagai media kebaktian agama, namun tugasnya dalam mengabadikan kekuasaan dan kebesaran raja atau seltan tetap menonjol.
Pada zaman Hindu bangunan candi tidak hanya mencerminkan hasrat untuk melambangkan ajaran dan falsafah agama, tetapi bangunan ini sekaligus karya monumental kerajaan. Nilai-nilai arsitektur Islam kuno yang dimuali sejak zaman  wali memang kurang menonjol bila dibandingkan dengan arsitektur zaman Hindu atau dengan bangunan-bangunan Islam di luar Indonesia.[9]

Seni bangun yang berjiwa Islam Indonesia amat miskin. Hamper tidak ada bangunan Islam yang menunjukkan keagungan Islam setaraf dengan bangunan bersejarah di Negara Islam lain. Di smaping itu, Indonesia tidak memiliki satu corak tersendiri seperti Ottoman style, India style, Syiro-Egypto style, meskipun agama Islam sudah lebih lima abad di Indonesia.
Dalam seni bangun Islam Indonesia pada garis besarnya mempunyai dua corak, yaitu asli dan baru. Pada abad ke-16 agama Islam sudah tersebar luas di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatra. Kegiatan keagamaan diadakan di masjid atau musallah. Model masjidnya berada dengan bentuk masjid negara Islam lainnya. Mungkin karena berdekatan masa, bentuk masjid di Indonesia pada mulanya banyak dipengaruhi oleh seni bangun Indonesia-Hindu. Masjid tertua yang memperlihatkan ragam seni bangun itu, misalnya Masjid Demak, Kudus, Ceribon, Banten, dan Ampel. Ciri-ciri model seni bangunan lama yang merupakan peniruan dari seni bangun Hindu-Buddha itu sebagai berikut:
  1. Atap tumpang, yaitu atap yang bersusun, semakin keatas semakin kecil dan yang paling atas biasanya semacam mahkota. Selalu bilangan atapnya ganjil, kebanyakan jumlah atapnya tiga atau lima. Atap tumpang ini terdapat juga di Bali pada upacara ngaben atau relief candi Jawa Timur.
  2. Tidak ada menara karenanya pemberitahuan waktu shalat dilakukan dengan memukul bedug. Hanya masjid yang tertua diberikan menara diKudus dan Banten.[10]
  3. Bangunan Makam, 1). Makam Islam Tertua: makam adalah bangunan sebagai sarana dari system penguburan jenazah orang muslim. Ada dua jenis makam tertua yang terdapat di Samudra Pase, Gresik dan Triloyo dekat Mojokerto. Jenis makam yang pertama mempunyai ciri-ciri bangunan lama, sedang Kijing makam \, yang kedua dari luar Indonesia. 2). Makam Gaya Hindu: sebagai bangunan suci perlu dilindungi dengan tambahan bangunan yang disebut cungkup. Cungkup berasal dari pikiran lama seperti dalam mendirikan candi di Zaman Hindu.[11]
  4. Bangunan Masjid, masjid adalah bangunan dimana orang dapat menjalankan shalat bersama atau al-jum’ah: 1). Bentuk luar dan Bagian-bagian masjid dengan berbagai arsitektur membuatnya dan banyak corak dalam banguna masjid tersebut. 2). Ruang dalam dan hiasan masjid, adanya corak atau hiasan dalam atau luar masjid yang diukir. 3). Bangunan istana , sebagai tempat tinggal raja dan keluarganya juga sebagai pusat pemerintahan-Bentuk luar dan bagian-bagian kraton, pembangunan selalu berbentuk pada pola pemikiran religio-magis.[12]
Di samping unsur zaman Hindu-Indonesia, terdapat pula pengaruh daerah, meskipun tidak mengubah bentuk keseluruhan hanya menambah keindahan. Setelah Indonesia merdeka dan dapat berhubungan dengan Negara lain, maka unsur lama secara berangsur-angsur hilang.[13]
  1. Seni Sastra
Bidang sastra Indonesia banyak pengaruh dari Persia, atara lain buku-buku yang kemudian disadur ke dalam bahasa Indonesia Kalilah wa Dimnah, Bayam Budiman, Abu Nawas, dan Kasih Seribu Satu Malam. Hamper semua cerita salinan itu dinamakan hikayat dab dimulai dengan nama Allah dan Shalawat Nabi.
Dalam seni sastra Indonesia banyak gubahan baru yang asalnya dari Mahabtara, Ramayana, dan Pancatara menjadi Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Perang Pandawa Jaya, Hikayat Seri Rama, Hikayatb Maharaja Rahwana, Syair Ken Tambunan, Lelakon Mesa Kumetir, Syair Panji Sumirang, Cerita Wayang Kinudang, Panji Kuda Sumitang, Cekel Waneng Pati, Panji Wila Kusuma. Saduran-saduran tadi sebagai tertulis dalam tambang gancaran.
Ada kesusatraan yang mempunyai sifat tersendiri, disebut suluk, yaitu kitab-kitab yang berisi ajaran tasawuf yang bersifat panteisme (manusia bersatu dengan Tuhan). Primbon, yaitu kitab bercorak kegaiban dan berisi ramalan-ramalan, penentuan-penentuan hari baik dan buruk, serta pemberian-pemberian makna kepada suatu kejadian.
Ada lagi satu bentuk kesusastraan disebut kitab karena isinya ajaran-ajaran moral dan tuntutan hidup sesuai dengan syari’at dan adat. Dengan adanya larangan Islam untuk menggambarkan makhluk hidup dan memperlihatkan kemewahan, maka pada zaman awal Islam ada berbagai cabang kesenian yang kehilangan gaya hidupnya atau dibatasi atau disamarkan.[14]
  1. Seni Ukir
Dalam agama Islam, ada hadits yang melarang melukiskan makhluk yang hidup, apalagi manusia. Meskipun hal itu di Persia dan India tidak dihiraukan, di Indonesia ternyata larangan yang diikuti. Di dalam al-Qur’an tidak dilarang tetapi dalam hadits ditemukan:
Berkata Said ibn Hasan: “Ketika saya bersama dengan Ibn Abbas datang seorang laki-laki, ia berkata:
“Hai Ibn Abbas, aku hidup dari kerajinan tanganku membuat arca seperti ini.” Lalu Ibn Abbas menjawab,” Tidak aku katakana kepadamu kecuali apa yang telah ku dengar dari Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Siapa yang telah melukis sebuah gambar maka dia akan disiksa Tuhan sampai dia dapat memberinya nyawa, tetapi selamanya dia tidak akan mungkin memberinya nyawa.”[15]       
Di kalangan ulama Indonesia memang ada yang menganut paham ini, sehingga di antara mereka ada yang tidak mau difoto karena, pertama, foto sama dengan menggambarkan makhluk hidup bernyawa. Pendapat kedua mengatakan, boleh  saja membuat gambar makhluk bernyawa dengan syarat bentuknya tidak dapat diraba. Foto tidak dilarang, yang dilarang kalau sudah merupakan relief atau arca. Pendapat ketiga mengatakan, boleh membuat gambar makhluk bernyawa, asal saja dalam rupa yang tidak mungkin makhluk itu hidup, misalnya membuat arca orang hingga dada ke atas, membuat relief dan sebagainya. Pendapat keempat mengatakan, melihat keadaan, suasana, tempat, dan waktu, yaitu memerhatikan hikmah dari larangan itu. Larangan membuat lukisan yang berbentuk makhluk bernyawa pada permulaan lahirnya Islam dipandang dari sudut tauhid, memang penting pada waktu nabi masih hidup di kota Makkah masih banyak bekas reruntuhan arca yang dulunya disembah oleh nenek moyang bangsa Arab.
Menghias masjid pun ada larangan, cukup tulisan-tulisan yang meningatkan manusia kepada Allah dan nabi serta firman-firman-Nya. Hal ini di Indonesia dipatuhi. Oleh sebab itu, seni hias seakan-akan tertumpah di makam-makam, sedangkan masjid hanya mimbarnya saja yang diperindah dengan ukiran-ukiran.[16]
  1. Seni Kaligrafi
Kaligrafi dari bahasa Inggris calligraphy dari bahasa latin “kalios” yang berarti indah dan “graph” yang berarti tulisan atau aksara. Kaligrafi adalah kepandaian menulis elok, atau tulisan elok. Dalam bahasa Arab ”khat”yang berarti garis atau tulisan indah,[17] salah satu seni rupa yang tidak kalah pentingnya dari jenis seni rupa lainnya.[18]
Beragam pedapat dikemukakan, tentang: siapa yang mula-mula menciptakan kaligrafi. Barangkali, cerita-cerita keagamaan adalah yang paling dapat dijadikan pegangan. Nabi Adam As-lah yang pertama kali mengenal kaligrafi.[19]

Watak khas dari seni khath ialah bahwa kehadirannya merupakan gubuhan kata-kata dari aksara dalam disain tertentu. Dengan berbagai motif tumbuh-tumbuhan menjadi ornament tertentu. Bangunan tertua pada zaman pemulaan kerajaan Islam tidak memberi peluang yang berarti bagi penerapan hiasan kaligrafi Arab.
  1. Wayang
Wayang adalah salah satu milik kebudayaan asli bangsa Indonesia. Penyelidikan tersebut menghubungkan pertunjukkan wayang dengan tradisi cara berfikir dalam alam kepercayaan lama.
  1. Awal pembentukan rupa wayang
Bentuk perwujudan dari arwah nenek moyang. Boneka batu yang dikenal dengan sebutan unduk adalah perwujudan pertama wayang berdasarkan kepercayaan animism. Leluhur wayang ini adalah bentuk perlambangan nenek moyang yang kehadirannya didukung oleh hasrat manusia untuk memuja nenek moyang. Karena wayang terciptalah jenis seni: seni pedalangan atau seni karawitan, seni tari dna seni rupa.
  1. Peranan kebudayaan Islam
Usaha untuk memainkan wayang diperlukan penemuan teknik baru, yaitu untuk menggerakkan bagian tangan dari boneka. Bagian tangan boneka ini, seperti juga pada tubuhnya, diberi pegangan yang disebut gapit.[20] Ada beberapa wayang diantaranya wayang krucil atau wayang klitik mengambil lakon dari cerita yang bersumber dari sejarah Majapahit dan Blambangan, wayang krucil dan wayang gedog dapat dipandang sebagian bentuk permulaan dari jenis wayang boneka dengan bentuk tiga dinamis.








[1] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 92
[2] Hamka, Sejarah Umat Islam IV, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 78 reprint Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 94
[3] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 94
[4] Wiyono Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia (Bandung: Angkasa, 1986), hal. 2
[5] C. Isror, Sejarah Kesenian Islam III, (Jakarta:  PT. Pembangunan, 1958), hal. 128 reprint  Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 95
[6] Uka Tjandrasasmita, Riwayat Penyelidikan Kepurbakalaan Islam di Indonesia, (Diklat SPS Yogyakarta, 1980), reprint Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 95
[7] R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Kanisius, 1973), reprint Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 95
[8] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal.95
[9] Wiyono Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia (Bandung: Angkasa, 1986), hal. 13
[10] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 96
[11] Wiyono Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia (Bandung: Angkasa, 1986), hal. 15-18
[12] Wiyono Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia (Bandung: Angkasa, 1986), hal. 24, 32, 40
[13] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 97
[14] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 98-100
[15] R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Kanisius, 1973), reprint Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 101
[16] Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 101-103
[17] Sirojuddinar, Seni Kaligrafi Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987), hal. 1
[18] Wiyono Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia (Bandung: Angkasa, 1986), hal. 115
[19] Sirojuddinar, Seni Kaligrafi Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987), hal. 5
[20] Wiyono Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia (Bandung: Angkasa, 1986), hal. 93

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar